Saturday, December 15, 2018

PERANG DAGANG AS DAN CINA


assalammualaikum wr.wb
hello guyzzzz.......
kali ini gw buat blog tentang perang dagang.
ini tugas terakhir gw di semester 1 :v
selamat membaca..
  
PERANG DAGANG


Perang dagang adalah konflik ekonomi yang terjadi ketika suatu negara memberlakukan atau meningkatkan tarif atau hambatan perdagangan lainnya sebagai balasan terhadap hambatan perdagangan yang ditetapkan oleh pihak yang lain. Perang dagang diakibatkan oleh kebijakan proteksionisme, yang biasanya diberlakukan oleh suatu negara untuk melindungi produsen lokal, untuk mengembalikan lapangan pekerjaan dari luar negeri, atau akibat persepsi bahwa praktik dagang negara lain itu tidak adil dan perlu diseimbangi dengan tarif.

SEJARAH PERANG DAGANG
Perang dagang sudah ada sejak abad ke-19. Contohnya pada Amerika Serikat(AS) pada tahun 1930an AS memicu perang dagang dengan Negara-negara eropa dengan menerapkan kebijakan proteksionis. Kongres dari pihak AS membuat peraturan undang-undang bernama Smoot-Hawley Tariff Act yang berisi kenaikan tariff AS terhadap lebih dari 20ribu barang-barang impor.
Negara-negara Eropa yang terkena imbas undang-undang itu lalu membalas mengenakan pajak tinggi untuk berbagai produk impor asal AS. “Bukannya membangkitkan ekonomi, ini malah memperparah Great Depression (era Depresi Besar). Ini membuat AS semakin sulit untuk keluar dari krisis ekonomi saat itu. Perang ini semakin membesar hingga memicu perang dunia ke-2 pada tahun 1940an.
AS juga kembali terlibat perang dagang dengan Jepang pada era 1980 an dengan mengenakan tarif tinggi untuk sejumlah barang impor pada era Presiden Ronald Reagan. Ini seperti produk baja dan mobil dari Jepang, yang laku keras di AS. Sejumlah pabrik baja AS menjadi tutup.
“Defisit perdagangan AS dengan Jepang naik dari US$9,1 miliar (sekitar Rp126 triliun) menjadi US$37 miliar (sekitar Rp513 triliun) dari 1979 sampai 1984,” begitu dilansir Japan Times.
Untuk menghindari berkembangnya perang dagang ini, negara-negara menyetujui aturan yang lebih ketat oleh World Trade Organization.
Komoditas baja kembali menjadi ‘bintang’ pada perang dagang antara AS dan Eropa pada 2002. Saat itu, Presiden George W. Bush, mengenakan tarif hingga 30 persen untuk impor baja. “Tapi tarif itu segera dicabut hanya dalam waktu dua tahun dari rencana tiga tahun karena mendapat ancaman dari rekan bisnis perusahaan Eropa,

PERANG DAGANG ANTARA AS & CHINA
Perang dagang amerika serikat dengan cina sudah dimulai sejak januari 2018. Perang ini dipicu/dimulai oleh AS yang membebankan tariff pada panel surya dan mesin cuci yang masuk /diimpor ke AS, Kebanyakan kedua barang tersebut berasal dari cina.



Pada 8 maret 2018, AS memberlakukan tariff 25% untuk impor baja dan tariff 10% untuk aluminium. Hal tersebut mempengaruhi Uni Eropa, meksiko, kanada, serta cina yang membalas dengan tariff barang – barang AS.


Pada 2 bulan april 2018, cina merespon hal tersebut dengan mengenakan tariff seniali $3milliar dari impor AS yang mempengaruhi 128 produk termasuk jeruk, anggur, babi dan aluminium.


 
Pada 6 juli 2018, perang dimulai dimana AS mulai diberlakukan tariff 25% untuk impor cina senilai $34 miliar termasuk mesin, peralatan konstruksi dan elektronik (bagian 1 dari putaran tariff $50 miliar).


Lalu pada 23 agustus, perang ini memanas mulai diberlakukan tariff 25% untuk impor cina senilai $16 milliar termasuk gerbong kereta api, minyak, bahan kimia, komponen elektronik (bagian 2 dari puturan tariff $50 miliar). Cina membalas dengan tariff impor senilai $50 miliar.


Lalu pada 18 September 2018, keputusan AS untuk mengenakan tariff atas impor cina senilai $200 miliar diumumkan dan mulai ditetapkan pada 24 september 2018. Tariff berbagai barang dari tas tangan hingga sarung tangan bisbol yang dimulai dari 10%, membengkak hingga 25% dari awal januari 2018(kira-kira setengah dari ekspor cina ke AS). Lalu cina membalas dengan tariff barang-barang AS senilai $60 miliar yang juga dimulai pada 24 september 2018.

Trump mengatakan jika cina membalas ia akan menyasar barang berharga cina senilai $2,67 miliar dengan tariff. Hal ini akan membawa peningkatan tariff AS yang ditujukan atas komoditas cina $517 miliar, dengan kata lain semua barang cina dijual di amerika.

PENYEBAB PERANG DAGANG

Dalam beberapa kesempatan, Trump menyampaikan kecamannya atas kebijakan dagang China yang dinilai merugikan AS. Dikutip dari situs Voice od America, Trump mengklaim bahwa defisit perdagangan AS dengan Tiongkok mencapai angka kronis, sekitar US$ 347 miliar (2016 dan 2017). Trump juga menuding Negeri Tirai Bambu sengaja merekayasa mata uangnya agar ekspornya bisa lebih bersaing di dunia, demikian dikutip dari situs BBC. 
 
Selain itu,Trump juga menyebut bahwa Amerika ingin "menghukum" Tiongkok karena dinilai kerap melanggar hak cipta atau hak atas kekayaan intelektual/HAKI, khususnya produk buatan produsen AS.

DAMPAK PADA EKONOMI GLOBAL

Pakar Inovasi Ekonomi Universitas Indonesia (UI), Fithra Faishal Hastadi menilai dampak perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan China berisiko pada perekonomian global, termasuk Indonesia. Di tingkat global, perang dagang ini pun dapat memicu pelemahan ekonomi dunia.

"Ya dampaknya terhadap perekonomian dunia akan sangat negatif. Tidak hanya berdampak pada China dan Amerika dan Indonesia saja, melainkan sleuruh dunia," ujarnya saat ditemui di Jakarta, Sabtu (7/7/2018).

Fithra mengatakan, akibat dari kedua negara tersebut setidaknya bisa berdampak ke pertumbuhan ekonomi dunia hingga 0,8 persen. Sementara target dari International Monetary Fund (IMF) sendiri sebesar 3,9 persen pada pertumbuhan ekonomi dunia.

"Kemungkinan besar dengan adanya proses perang dagang ini akan ada retaliasi dan lain lain, artinya maksimal pertumbuhannya hanya bisa sampai 3,1 persen," ujarnya.

Meski demikian, dia mengatakan imbas dari perang dagang sendiri terhadap Indonesia tidak begitu besar. Walaupun ada, kata dia, hanya mengkontraksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 0,1 persen saja.

"Untuk indonesia sendiri sebenarnya karena kita kontribusi perdagangan internasional itu gak terlalu besar mungkin tidak ada efek langsung," imbuh dia. Meski tidak berimbas langsung terhadap pertumbuhan Indonesia, namun dirinya mengaku khawatir apabila hal tersebut berlangsung secara terus menerus dilakukan oleh kedua negara tersebut. Untuk itu, dia menyarankan pemerintah agar mencari partner perdagangan dengan negara lain.

"Tetapi yang kita takutkan jsutru dampak jangka panjangnya karena biar bagaimanapun China dan Amerika adalah partner dagang terbesar kita dan koneksinya cukup kuat makanya ke depan seharusnya indonesia sudah mencari portofolio lebih banyak artinya mencari partner dagang non tradisional," jelas dia.

DAMPAK BAGI INDONESIA

Dampak negatif
"China misalnya, dia mengekspor tekstil ke AS, tapi karena ada pengenaan tarif impor yang tinggi ini kan China enggak akan ekspor ke AS lagi, mereka butuh pasar baru. Indonesia bisa jadi salah satu pasar baru sasarannya. Hal ini bisa membuat produk tekstil kita juga kalah saing,"

Dampak positif
Meski begitu, Haryadi menuturkan, Indonesia bisa merasakan dampak positif dari perang dagang yang terjadi di antara keduanya. Walau hanya sedikit kemungkinannya, dia mengatakan, Indonesia juga bisa mengambil peluang untuk menggantikan beberapa produk yang dibutuhkan kedua negara tersebut.

"China mengenakan tarif impor kedelai mahal, pasti mereka mencari alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati dari kedelai. Nah, Indonesia bisa menggantikannya dengan CPO (Crude Palm Oil)," tutupnya.

ANTISIPASI INDONESIA TERHADAP PERANG DAGANG

Pemerintah Indonesia akan meneliti dan mengatisipasi dampak perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Cina. Evaluasi ini akan dilakukan pemerintah pada semester II 2018 yang menjadi enam bulan pertama pascadimulainya perang dagang oleh AS.
Berbagai instrumen guna mengurangi tekanan pasar dagang pun disiapkan. "Dan kita juga berharap daya tahan dari industri dan para pelaku ekonomi kita dalam situasi menghadapi tekanan seperti ini," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani di Istana Kepresidenan, Senin (9/7).
Penerbitan instrumen ini diharap mampu memperkuat ekspor dan berbagai aktivitas ekonomi yang bisa menghasilkan devisa bagi negara termasuk sektor pariwisata. Di sisi impor, pemerintah pun akan mengerem permintaan barang dari luar negeri yang dianggap tidak terlalu prioritas dan bisa dihasilkan oleh produsen dalam negeri.
Sri Mulyani menuturkan, dari paparan yang disampaikan Menteri Perindustrian, Menteri Perdagangan, dan Menteri ESDM, pemerintah akan menginventarisasai beberapa hal yang diusulkan untuk dikaji jika memang membutuhkan insentif khusus. Dia menjelaskan, beberapa industri dianggap membutuhkan kebijakan guna menjaga bea masuk.
Langkah itu diambil agar barang yang menjadi bahan baku industri, mendapatkan keringanan atas impor barang modal. Sehingga produk yang dihasilkan nantinya bisa lebih kompetitif ketika dijual ke luar negeri.
"Apakah bisa dibebaskan bea masuknya. Kita akan melakukan evaluasi," ujar Sri Mulyani.
Selain insentif bea masuk, pemerintah pun akan memberikan dukungan bagi industri dalam bentuk pajak yang ditanggung pemerintah, sehingga tidak menjadi beban perusahaan. Pada prinsipnya pemerintah akan melihat industri manufaktur mana saja yang bisa menghasilkan barang ekspor dan menghasilkan substansi impor.
Jika perusahaan ini tidak diberikan bea masuk yang rendah, maka alternatif peralihan pajak menjadi langkah lain. Pemerintah Indonesia juga akan melihat dinamika dari perkembangan ekonomi global termasuk perdagangan secara langsung Indonesia-AS.
Di lain pihak, pemerintah pun terus memantau perkembangan tata cara dagang AS dengan negara lain di Eropa dan Meksiko di mana negara Paman Sam memiliki kebijakan perdagangan tersendiri. "Maka kita sekarang melakukan asesmen terhadap ekonomi dunia, karena ekonomi dunia akan terpengaruh dari hubungan yang tidak baik ini, hubungan yang mengalami ketegangan," ujar Sri Mulyani.
Selain evaluasi, dalam satu semester ke depan, pemerintah pun akan melakukan evaluasi dalam 12 dan 18 bulan ke depan. Sebab, segala hal bisa terjadi dengan ketidakpastian yang terjadi, khususnya berbagai kebijakan yang bisa saja diluncurkan oleh AS maupun negara lain.
 
sekian dari gw 
jika ada kesamaan & kesalahan penulisan mohon dimaafkan
wassalammualaikum wr.wb 
 
REFERENSI


https://ekonomi.kompas.com/read/2018/11/28/182035526/menurut-boediono-ini-dampak-positif-dan-negatif-perang-dagang-bagi-ri - diakses pada 15-12-2018, 15:38 WIB
 



No comments:

Post a Comment

SEJARAH PERKEMBANGAN SISTEM EKONOMI INDONESIA

hello guyzzzzz... selamat datang di blog gw kali ini gw ditugasin buat blog tentang perkembangan sistem ekonomi indonesia. selamat membac...